, Jakarta- Kebanyakan ibu mengaku tertekan ketika bayi mereka menangis di depan umum. Hal tersebut karena banyak sikap dan pandangan negatif dari orang-orang sekeliling mereka.
Sebuah jajak pendapat mengungkapkan bagaimana ibu harus berjuang keras dalam merawat dan mengasuh bayi mereka. Seringkali lingkungan tidak mendukung,seperti menjadi sinis dan berkomentar negatif hanya karena mendengar bayi merengek.
Sebanyak 64% ibu baru di Inggris melaporkan sikap negatif orang-orang di sekeliling mereka ketika bayi mereka stres dan menangis. Apakah itu pandangan sinis, komentar negatif atau bahkan intervensi langsung yang tidak suka, alih-alih membantu.
Yaitu sebanyak 41% ibu baru mendapat tatapan sinis dari orang asing, 36% mendapat pandangan tidak senang dan seperti terganggu dengan tangisan bayi, 27% mendapat cibiran dan 19% bahkan mendapat intevensi langsung yang bernada negatif.
Penelitian juga mengungkapkan, 90% bahkan tidak pernah mendapat bantuan, seperti sekedar bersikap baik atau ikut membantu menghibur atau menenangkan. Karenanya tidak heran sebanyak 42% ibu baru mengaku mereka seperti berjuang sendirian setelah melahirkan.
Hampir dua pertiga atau 61% mengaku adalah perjuangan besar ketika berusaha menenangkan bayi mereka yang menangis di depan umum, sebanyak 38% mengaku seolah kehilangan daya menenangkan, 28% mengaku khawatir, 32% mengaku malu dan 24% mengaku panik.
Bukan itu saja, ibu baru juga berjuang menghadapi hal-hal lain yang tidak kalah penting, seperti sebanyak 37% berjuang agar bisa menyusui bayi mereka, 35% berjuang menerima perubahan tubuh, dan 31% mengaku menjadi tertekan dalam menurunkan berat badan setelah melahirkan.
Hampir setengah dari ibu (47%) setuju membutuhkan lebih banyak bantuan dan dukungan dalam minggu-minggu setelah anak mereka lahir.
Alison Knights, psikolog berbincara tentang hasil riset oleh Colief Infant Drops mengatakan, beberapa bayi akan menangis lebih dari yang lain, khususnya satu dari lima yang menderita kolik-tanda yang menangis berlebihan pada bayi sehat. Dia menyarankan, jika ibu mendapati kondisi ini segera berbicara kepada petugas kesehatan atau apoteker.
Sebuah jajak pendapat mengungkapkan bagaimana ibu harus berjuang keras dalam merawat dan mengasuh bayi mereka. Seringkali lingkungan tidak mendukung,seperti menjadi sinis dan berkomentar negatif hanya karena mendengar bayi merengek.
Sebanyak 64% ibu baru di Inggris melaporkan sikap negatif orang-orang di sekeliling mereka ketika bayi mereka stres dan menangis. Apakah itu pandangan sinis, komentar negatif atau bahkan intervensi langsung yang tidak suka, alih-alih membantu.
Yaitu sebanyak 41% ibu baru mendapat tatapan sinis dari orang asing, 36% mendapat pandangan tidak senang dan seperti terganggu dengan tangisan bayi, 27% mendapat cibiran dan 19% bahkan mendapat intevensi langsung yang bernada negatif.
Penelitian juga mengungkapkan, 90% bahkan tidak pernah mendapat bantuan, seperti sekedar bersikap baik atau ikut membantu menghibur atau menenangkan. Karenanya tidak heran sebanyak 42% ibu baru mengaku mereka seperti berjuang sendirian setelah melahirkan.
Hampir dua pertiga atau 61% mengaku adalah perjuangan besar ketika berusaha menenangkan bayi mereka yang menangis di depan umum, sebanyak 38% mengaku seolah kehilangan daya menenangkan, 28% mengaku khawatir, 32% mengaku malu dan 24% mengaku panik.
Bukan itu saja, ibu baru juga berjuang menghadapi hal-hal lain yang tidak kalah penting, seperti sebanyak 37% berjuang agar bisa menyusui bayi mereka, 35% berjuang menerima perubahan tubuh, dan 31% mengaku menjadi tertekan dalam menurunkan berat badan setelah melahirkan.
Hampir setengah dari ibu (47%) setuju membutuhkan lebih banyak bantuan dan dukungan dalam minggu-minggu setelah anak mereka lahir.
Alison Knights, psikolog berbincara tentang hasil riset oleh Colief Infant Drops mengatakan, beberapa bayi akan menangis lebih dari yang lain, khususnya satu dari lima yang menderita kolik-tanda yang menangis berlebihan pada bayi sehat. Dia menyarankan, jika ibu mendapati kondisi ini segera berbicara kepada petugas kesehatan atau apoteker.
"Ingat, memiliki bayi adalah transisi besar yang membutuhkan banyak kerja keras emosional dari semua pihak." kata dia seperti melansir dailymail, Selasa (15/04/2014).
sumber : inilah.com




0 comments:
Post a Comment