Jakarta - Tingginya angka obesitas di Indonesia membuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencanangkan Studi Diet Total 2014. Kemenkes ingin mengetahui kebiasaan penderita obesitas.
"Dalam survei tersebut, dilihat jenis makanannya apa, gizinya bagaimana, dan penerapan polanya seperti apa," kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dalam Konferensi Pers Rakerkesnas 2014 di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (01/04/2014).
Studi yang sudah berlangsung sejak Januari 2014 lalu dan akan berakhir Juni 2014 mendatang tersebut meneliti pola konsumsi tiap individu di 34 provinsi, 498 Kabupaten atau kota, dan 2080 blok sensus dan rumah tangga.
Selanjutnya terhadap hasil survei, Kemenkes akan menganalisa makanan melalui analisis cemaran kimia makanan (ACKM) dengan Daerah Istimewa Yogyakarta terpilih sebagai pilot proyek. Ini untuk menentukan tingkat kertepaparan zat kimia berbahaya dalam makanan yang mereka konsumsi seperti formalin, boraks dan lainnya.
"Banyak oknum tidak bertanggung jawab menggunakan formalin untuk memperbagus tahu, ini berakibat gagal ginjal yang jumlahnya semakin meningkat dan cukup memprihatinkan. Mereka untung, tapi rakyat menderita dan mau tidak mau harus mengeluarkan uang lebih karena pengobatan penyakitnya tergolong mahal," ujar Nafsiah.
Gizi lebih menjadi faktor risiko pertama terjadinya penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi dan kardiovaskular.
"Studi ini sangat penting karena di Indonesia, pemerintah tidak hanya masih bergelut terhadap gizi kurang dan gizi buruk. Tapi, gizi lebih merupakan sebuah masalah yang mengalami peningkatan," kata Menkes menambahkan.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Daerah (Riskesdas) Kemenkes terbaru, tahun 2013, kasus obesitas usia balita mencapai 11,9%. Sementara pada laki-laki dewasa mencapai 19,7% dan perempuan obesitas mencapai 32,9%.
sumber : inilah.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




0 comments:
Post a Comment