Sulitnya Menekan Angka Kematian Ibu Melahirkan


Jakarta- Indonesia berpotensi menjadi negara yang gagal dalam mencapai target tujuan pembangunan milenium (MDGs) pada 2015. Sulitnya menekan angka kematian ibu (AKI) saat melahirkan menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Kementrian Kesehatan (Kemenkes) mengakui kesulitan dalam mencapai target penurunan angka kematian ibu hanya tinggal 102 setiap per 100 ribu ibu melahirkan pada 2015.
"Penurunan angka kematian ibu menjadi 102 adalah menjadi yang paling sulit tercapai," kata Direktur Jendral Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes, dr Anung Sugihantono dalam sambutannya yang dibacakan dr Riskiyana Sukandhi Putra, Kasubdit Ibu Bersalin dan Nifas Kemenkes di Jakarta beberapa waktu lalu, seperti ditulis Senin (21/4/2014).

Sedangkan Kemenkes mencatat hingga kini angka kematian ibu saat melahirkan masih tinggi yaitu sebesar 359 kasus per 100 ribu kasus ibu melahirkan. Tidak mengherankan, ini menjadi tujuan yang sangat sulit tercapai dalam kurun waktu kurang dari satu tahun sebelum 2015.

MDGs terdiri dari delapan pilar tujuan, yaitu menanggulangi kemiskinan dan kelaparan; mencapai pendidikan dasar; mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan; menurunkan angka kematian ibu dan anak; meningkatkan angka kesehatan ibu; memerangi HIV dan AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya; memastikan kelestarian lingkungan hidup; dan membangun kemitraan global untuk pembangunan.

"Angka kelahiran total yang berkaitan erat dengan angka kematian ibu masih stagnan pada angka 2,6 sejak 2002. Artinya setiap ibu punya anak rata-rata 2,6 ,semakin banyak anak, semakin banyak kehamilan maka semakin tinggi risiko kematian ibu saat melahirkan," urai Riskiyana.

Padahal kata Riski, kematian ibu saat melahirkan adalah sesuatu yang seharusnya bisa dicegah atau preventable death.

Riskiyana melanjutkan, masih tingginya angka kematian ibu saat melahirkan disebabkan karena indikator yang mempengaruhinya masih sangat kecil pencapaiannya dalam lima tahun belakangan ini. Yaitu angka kepesertaan ber-KB hanya meningkat 0,5% dari 57,4% menjadi 57,9%, angka unmetneed atau orang yang ingin ber-KB tapi tidak terlayani hanya turun 0,6% dari 9,1% menjadi 8,5%, angka kelahiran remaja hanya menurun 51 menjadi 48 dari per 1000 wanita.

"Kita juga tahu bahwa kelahiran terlalu muda, terlalu tua, terlalu rapat dan terlalu sering juga meningkatkan risiko kematian ibu dan anak saat melahirkan," ujar Riskiyana.

Meski sulit, namun pemerintah, lanjut Riskiyana tetap mengupayakan terobosan-terobosan untuk menurunkan angka kematian ibu. Terobosan itu, kata dia, juga perlu dilakukan bersama-sama dengan pihak lain selain pemerintah.

Terobosan-terobosan tersebut, dijelaskan Riskiyana yaitu seperti, pemberian biaya operasional kesehatan kepada seluruh puskesmas. Di daerah Pulau Jawa yaitu mendapat Rp75 juta per puskesmas setiap tahunnya, di Sulawesi sekitar Rp100 juta, di Maluku Rp200 juta setiap puskesmas, sementara NTT dan Papua mendapat anggaran Rp250 juta ditambah obat-obatan sebesar Rp100 juta setiap puskesmas per tahun.

Adanya program JKN sejak Januari 2014, menurut Riskiyana diharapkan juga mampu menurunkan angka kematian ibu saat melahirkan. Serta upaya untuk terus meningkakan akses layanan kesehatan ibu yang berkualitas dan memenuhi standar serta memusatkan tenaga kesehatan yang sebaik-baiknya. Seperti puskesmas yang kini memiliki fasilitas untuk persalinan.

sumber : inilah.com

0 comments:

Post a Comment

 

Blogger news

Blogroll

About