INILAH.COM. Ontario, Kanada - Jika Anda cenderung perfeksionis, atau ingin memiliki standar tinggi dan terpuji, cobalah melupakan semua itu. Penelitian menunjukan perfeksionisme memiliki sisi gelap.
Dr Danielle Molnar, psikolog dari Universitas Brock di Kanada, mengatakan perfeksionisme dapat menyebabkan seseorang terus tertekan, dan berdampak serius pada kesehatan. Perfeksionis, lanjut Dr Molnar, berisiko mengidap iritasi usus (IBS), insomnia, terkena serangan jantung, dan kematian dini.
"Yang juga harus dipertimbangkan orang-orang yang ingin sempurna adalah Anda berisiko mengalami obesitas dan menjadi perokok," ujar Dr Molnar.
Ia juga mengatakan sekolah cenderung mempromosikan perfeksionisme dan manfaatnya bagi pengembangan prestasi. Namun, demikian Dr Molnar, begitu banyak penyakit yang akan menghampiri orang perfeksionis.
"Saya rasa, siapa pun harus mempertimbangkan untuk menjadi sempurna, karena berbahaya bagi kesehatan di masa depan," ujarnya.
Gordon Flett, profesor psikologi kesehatan Universitas York, mengatakan dua dari lima individu cenderung ingin menjadi perfeksionis. Namun, meningkatnya penggunaan media sosial menyebabkan tidak terjadinya peningkatan orang yang ingin sempurna.
"Menjadi perfeksionis memang wajar. Namun jika perfeksionisme menjadi kebutuhan obsesif di tempat kerja dan di rumah, Anda akan tertekan ekstrem," Prof Flett menasehati. "Ketika Anda tertekan hebat, hubungan sosial akan rusak dan kesehatan menurun."
Flett membagi perfeksionisme menjadi tiga; Pertama perfeksionisme yang berorientasi ke diri sendiri.
Kedua other-oriented perfectionists, atau perfeksionis orientasi lain. Perfeksionis jenis ini hanya akan mengejar standar tinggi yang ditetapkan orang di sekitarnya.
Ketiga, socially prescribed perfectionists, atau perfeksionis warisan sosial. Perfeksionis jenis ini melihat standar yang diwariskan orang yang mereka percaya; orang tua, bos, atau rekan kerja yang sukses, sebagai kesempurnaan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




0 comments:
Post a Comment