Jangan Buru-buru Percepat Persalinan


Jakarta- Karena ingin bayinya lahir pada saat atau tanggal yang mereka anggap spesial, pasangan meminta dokter menerapkan induksi persalinan untuk mempercepat kelahiran. Padahal ada bahaya yang mengancam.

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan (Obestri dan ginekologi), Adriansjah Dara Sjahruddin, menyayangkan masih banyak pasangan orang tua yang meminta persalinan dipercepat sesuai dengan tanggal yang mereka inginkan.

Padahal dia menjelaskan, induksi persalinan sebaiknya dilakukan hanya ketika hingga umur kandungan sudah lebih dari 10 bulan atau 41-42 minggu namun ibu hamil belum juga merasakan kontraksi. Atau jika risiko bahaya lebih besar ketika kandungan dilanjutkan ketimbang kehamilan diakhiri.

"Ada pasangan yang ingin bayinya lahir 16 April meminta saya melakukan induksi, sebenarnya dia masih memiliki waktu dua minggu untuk mengalami kontraksi alami dan persalinan, tapi dia minta dipercepat ," kata dokter Adriansjah dalam diskusi SOHO#Better U: Hari Kartini membahas Peran Oksitosin pada Induksi Persalinan di Jakarta, Rabu (16/4/2014).

Namun, lanjut Adriansjah, akhirnya pasangan itu mengurungkan niatnya dan memilih menunggu waktunya untuk melahirkan setelah ia menjelaskan apa saja yang menjadi risiko dari menerapkan induksi persalinan untuk mempercepat kelahiran.

Pertama, ia menjelaskan, berisiko terjadinya kerobekan pada rahim atau ruptura uteri yang bisa disebabkan karena terlalu kencangnya kontraksi.
"Ini mengapa saat melakukan induksi persalinan dengan oksitosin dokter maupun perawat melakukan pengamatan dan penjagaan yang sangat ketat," ujarnya.

Kedua, harus melihat bagaimana kekuatan kualitas kontraksi uterus dan ketiga harus memantau detak jantung janin untuk mencegah risiko gawat janin.

Dokter Adriansjah menjelaskan, saat rahim ibu hamil sering berkontraksi karena pemberian induksi oksitosin, maka akan menghentikan peredaran darah dan oksigen ke rahim, yang artinya ini juga berhenti untuk bayi. Ketika kontraksi hilang, maka aliran darah kembali normal dan bayi bisa kembali bernafas.

Kondisi seperti itu yang terlalu sering terjadi, lanjutnya, bisa menimbulkan gagal kompensasi seperti gagal jantung

"Ini sama situasinya seperti kita berenang, masuk di air lalu keluar lagi untuk ambil nafas. Jika itu terjadi terus berulang-ulang lama-lama kita gagal kompensasi, dengan oksigen yang sedikit, janin pun bisa gagal kompensasi. Karena rahim terlalu sering berkontraksi , janin bisa gawat janin, akhirnya induksi kita stop dan pilihan terakhir adalah operasi sesar," jelasnya.

0 comments:

Post a Comment

 

Blogger news

Blogroll

About