INILAHCOM, Jakarta- Sebuah survei mengungkapkan anemia atau kekurangan sel darah merah adalah penyakit yang paling banyak menyerang pekerja perempuan di Indonesia. Sel darah memiliki fungsi membawa oksigen dan makanan ke otak dan organ tubuh lainnya.
Padahal menurut pedoman Gerakan Pekerja Perempuan Sehat dan Produktif (GP2SP) yang diterbitkan Kementerian Kesehatan RI, akibat anemia pekerja bisa kehilangan 6,5 jam kerja per minggu dan penurunan produktivitas sebanyak 10 persen.
Survei melibatkan 10 ribu pekerja perempuan di empat pabrik di Subang dan Bekasi, Jawa Barat, sejak tiga tahun. Hasil survei menunjukkan sebanyak 40% responden pekerja perempuan menderita anemia, 21% mempunyai kadar Hb atau hemoglobin sedikit di atas batas normal yang beresiko menjadi anemia.
Sedangkan jumlah pekerja wanita di Indonesia terus bertambah, kini mencapai 43 juta.
Survei juga menemukan sebagian besar pekerja perempuan, yaitu 73%, belum menerima penyuluhan kesehatan dari klinik. Hampir semua responden tidak pernah mendapatkan pendidikan kesehatan di tempat kerja.
"Masalah anemia ini sangat berpengaruh negatif pada fungsi tubuh dan juga menurunkan produktivitas pekerja," terang Dr Nasaruddin Sheldon, MD, Country Director dari Project Hope Indonesia, pihak yang melakukan penelitian bersama Yayasan Kusuma Buana (YKB) pada acara "MSD For Mothers, Meningkatkan Kesehatan Perempuan di Tempat Kerja" di Jakarta, Kamis (17/4/2014).
Dia menjelaskan anemia timbul karena kurangnya asupan zat besi, serta konsumsi gizi yang tidak seimbang. Faktor lainnya adalah menstruasi, kehamilan, kelelahan, serta memiliki peran ganda sebagai pekerja dan juga ibu rumah tangga.
Untuk meningkatkan kesehatan perempuan pekerja, mereka bekerjasama dengan Merch Sharp and Dohme (MSD) mengimplementasikan program "MSD for Mothers" di Indonesia. Salah satu komponennya adalah pencegahan dan pengobatan anemia, sehingga diharapkan dapat membantu meningkatkan produktivitas dan keuntungan perusahaan.
"Dalam program ini, kami melakukan upaya pencegahan dan juga pengobatan bagi pekerja perempuan yang mengalami anemia. Sebagai pencegahan, kami lakukan edukasi kesehatan dan screening kepada tiap karyawan untuk diperiksa keadaan hemoglobinnya. Bila ditemukan adanya anemia, segera akan kami beri pengobatan dengan memberian zat besi maupun vitamin," terang dia.
Direktur Bina Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementrian Kesehatan, dokter Muchtaruddin Mansyur, SpOk, mengatakan ada hubungan timbal balik antara kesehatan kerja dengan produktifitas, demikian juga pemahaman risiko pekerjaan, lingkungan pekerjaan, lingkungan kerja dengan kesehatan perempuan.
"Contoh, perusahaan menerima calon pegawai pasti mencari yang sehat, agar bisa produktif. Setelah bekerja, perusahaan harus tetap mengupayakan dan memperhatikan kesehatan pekerja agar tetap produktif," kata Muchtaruddin.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




0 comments:
Post a Comment